Pada suatu hari, Muhammad bin Munkadir, yang terkenal
sebagai seorang zahid yang tekun beribadah, pergi ke luar kota. Cuaca sangat
panas sesuai dengan musimnya saat itu. Matahari pun memancarkan sinarnya yang
menyengat.
Di perjalanan ia melihat seseorang berbadan gemuk dipapah
dua orang budak berkulit hitam. Orang itu keluar untuk mengontrol keadaan
tanamannya. Munkadir berkata dalam hati:”Siapa gerangan orang yang dalam
keadaan panas seterik ini, masih mau disibukkan urusan dunia? Saya harus
mendekat dan menasihatinya.”
Ketika ia mendekat, ternyata orang itu ialah Imam Al-Baqir.
Maka Munkadir menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Lalu ia member salam
kepadanya dan Imam Al-Baqir menjawab salamnya dalam keadaan bercucuran
keringat.
Kata Munkadir: “Semoga Allah memperbaiki dirimu sebagai
seorang syaikh dari suku bangsa Quraisy. Siang-siang seterik ini, tuan keluar
untuk mencari dunia. Bagaimana jadinya kalau ajal menemuimu dalam situasi
seperti ini?”
Imam Al-Baqir bersandar pada dinding dan menjawab:”Demi
Allah, jika aku mati dalam keadaan seperti ini, dimana aku sedang menaati
perintah Allah, aku akan bangga. Yang aku takutkan ialah kematian yang dating
di saat aku sedang berbuat maksiat kepada Allah.”
Jawaban ini membuat Munkadir sadar akan kesalahannya, yang
semula merasa bahwa dirinya benar. Kemudian ia menghampiri Imam Al-Baqir sambil
berkata:”Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat kepada tuan, wahai Abu Ja’far.
Sebenarnya aku bermaksud menasihati tuan, kiranya sebaliknya tuanlah yang menasihatiku.

Tidak ada komentar
Posting Komentar