Senin, 13 Maret 2017

Sya'ir Imam Al-Hadi menyadarkan Khalifah

Khalifah Mutawakkil sangat khawatir terhadap pengaruh Imam Al-Hadi di negerinya. Ia merasa cemas kalau-kalau rakyatnya lebih segan da... thumbnail 1 summary


Khalifah Mutawakkil sangat khawatir terhadap pengaruh Imam Al-Hadi di negerinya. Ia merasa cemas kalau-kalau rakyatnya lebih segan dan patuh kepada Imam Al-Hadi. Isu-isu yang beredar di sekitar istana menyatakan, bahwa Imam Al-Hadi bermaksud menggulingkan kekuasaannya, dan sejumlah senjata telah disiapkan dirumahnya.
Isu tersebut tersebar begitu gencarnya, sehingga khalifah merasa perlu untuk segera mengirim utusan untuk membuktikan kebenaran berita yang meresahkan hatinya. Di malam yang kelam, tatkala manusia sedang terlena dalam tidurnya, berangkatlah serombongan pasukan penyelidik untuk menggeledah  rumah Imam, sekaligus untuk menyeretnya ke khalifah.
Setibanya di kediaman san Imam, rombongan mendapati ia sedang asyik melakukan ibadah dan dzikir kepada Allah dengan khusyu’nya. Dan ketika mereka menggeledah rumahnya, ternyata tak sepucuk senjata pun yang mereka temukan, hanya Imamlah yang dapat mereka bawa ke hadapan khalifah.
Ketika Imam masuk ke istana, khalifah Mutawakkil sedang dalam keadaan mabuk khamar bersama bawahan-bawahannya. Khalifah segera memerintahkan para pengawal untuk menempatkan Imam duduk di sampingnya, lalu disuguhkan khamar. Serta-merta Imam menolak dengan mengemukakan sebuah alas an. Khalifah pun menerima penolakannya dengan syarat ia harus mau memperdengarkan sya’ir-sya’ir cinta kepada para hadirin. Imam tetap menolak perintah kedua ini, namun khalifah tidak menerima penolakannya. Atas desakan khalifah yang tak dapat dielakkan lagi maka Imam pun terpaksa melagukan sya’ir-sya’ir di tengah majelis khalifah.
Sya’ir-sya’ir yang dibawakannya sebagai berikut:
Mereka tidur di atas usungan para pemuda
Tapi apalah artinya semua itu bila segala daya telah tiada.
Dulu mereka perkasa, kini keperkasaan itu tinggal kenangan,
kini semua manusia berada di atasnya.
Karena mereka harus masuk ke dalam lubang tanah gelap tiada beralas,
hanya berbekalkan sehelai kain kafan.
Jika lubang telah ditutup, maka datanglah suara menggelegar.
Mengajukan seribu satu macam pertanyaan.
Mana perhiasanmu, mana mahkotamu, mana pakaian kebesaranmu.
Sementara tanah kubur pun membongkar semua rahasianya.
Di kala wajah-wajah mereka telah membusuk dimakan ulat.
Masa panjang telah berlalu, saat mereka dapat makan dan minum dengan bebasnya.
Kini tibalah giliran mereka, menjadi santapan ulat.
Seusai pembacaan sya’ir-sya’ir tersebut bait demi bait, sadarlah khalifah Mutawakkil dari mabuknya. Tak terasa air matanya jatuh setetes demi setetes sehingga kedua pipinya menjadi basah karenanya. Serta merta ia meminta maaf kepada Imam dengan segala ketulusan hatinya.
Majelis khalifah pun bubarlah setelah peristiwa yang mengharukan itu. Demikianlah cahaya kebenaran jika telah dating, mampu mengusir kabut kebatilan dalam waktu sekejap saja.

Tidak ada komentar

Posting Komentar