Khalifah Mutawakkil sangat khawatir terhadap pengaruh Imam
Al-Hadi di negerinya. Ia merasa cemas kalau-kalau rakyatnya lebih segan dan
patuh kepada Imam Al-Hadi. Isu-isu yang beredar di sekitar istana menyatakan,
bahwa Imam Al-Hadi bermaksud menggulingkan kekuasaannya, dan sejumlah senjata
telah disiapkan dirumahnya.
Isu tersebut tersebar begitu gencarnya, sehingga khalifah
merasa perlu untuk segera mengirim utusan untuk membuktikan kebenaran berita
yang meresahkan hatinya. Di malam yang kelam, tatkala manusia sedang terlena
dalam tidurnya, berangkatlah serombongan pasukan penyelidik untuk
menggeledah rumah Imam, sekaligus untuk
menyeretnya ke khalifah.
Setibanya di kediaman san Imam, rombongan mendapati ia
sedang asyik melakukan ibadah dan dzikir kepada Allah dengan khusyu’nya. Dan
ketika mereka menggeledah rumahnya, ternyata tak sepucuk senjata pun yang
mereka temukan, hanya Imamlah yang dapat mereka bawa ke hadapan khalifah.
Ketika Imam masuk ke istana, khalifah Mutawakkil sedang
dalam keadaan mabuk khamar bersama
bawahan-bawahannya. Khalifah segera memerintahkan para pengawal untuk
menempatkan Imam duduk di sampingnya, lalu disuguhkan khamar. Serta-merta Imam menolak dengan mengemukakan sebuah alas
an. Khalifah pun menerima penolakannya dengan syarat ia harus mau
memperdengarkan sya’ir-sya’ir cinta kepada para hadirin. Imam tetap menolak
perintah kedua ini, namun khalifah tidak menerima penolakannya. Atas desakan
khalifah yang tak dapat dielakkan lagi maka Imam pun terpaksa melagukan sya’ir-sya’ir
di tengah majelis khalifah.
Sya’ir-sya’ir yang dibawakannya sebagai berikut:
Mereka tidur di atas
usungan para pemuda
Tapi apalah artinya
semua itu bila segala daya telah tiada.
Dulu mereka perkasa,
kini keperkasaan itu tinggal kenangan,
kini semua manusia
berada di atasnya.
Karena mereka harus
masuk ke dalam lubang tanah gelap tiada beralas,
hanya berbekalkan
sehelai kain kafan.
Jika lubang telah
ditutup, maka datanglah suara menggelegar.
Mengajukan seribu satu
macam pertanyaan.
Mana perhiasanmu, mana
mahkotamu, mana pakaian kebesaranmu.
Sementara tanah kubur
pun membongkar semua rahasianya.
Di kala wajah-wajah
mereka telah membusuk dimakan ulat.
Masa panjang telah
berlalu, saat mereka dapat makan dan minum dengan bebasnya.
Kini tibalah giliran mereka,
menjadi santapan ulat.
Seusai pembacaan sya’ir-sya’ir tersebut bait demi bait,
sadarlah khalifah Mutawakkil dari mabuknya. Tak terasa air matanya jatuh
setetes demi setetes sehingga kedua pipinya menjadi basah karenanya. Serta
merta ia meminta maaf kepada Imam dengan segala ketulusan hatinya.
Majelis khalifah pun bubarlah setelah peristiwa yang
mengharukan itu. Demikianlah cahaya kebenaran jika telah dating, mampu mengusir
kabut kebatilan dalam waktu sekejap saja.

Tidak ada komentar
Posting Komentar