Jumat, 03 Maret 2017

Ketika Kemusykilan Menimpa Pada Diri Manusia

Ia sedang merenungi masa-masa lalunya yang penuh derita, dan mengenang hari-hari kelabunya yang dating menimpanya secara beruntun. Suat... thumbnail 1 summary


Ia sedang merenungi masa-masa lalunya yang penuh derita, dan mengenang hari-hari kelabunya yang dating menimpanya secara beruntun. Suatu ketika pernah ia tak memiliki barang sesuap nasi pun untuk menghidupi istrinya dan anak – anaknya. Terngiang – ngianglah di telinganya sebuah hadits yang telah hilang dari ingatan itu kinidatang menggelitik telinganya kembali, membangkitkan semangat hidup agar ia kembali, membangkitkan semangat hidup agar ia memulai langkah baru, merubah jalan hidup buat mengangkat diri beserta keluarganya dari lumpur kemiskinan. 
Ketika istrinya merasakan bahwa kondisi kemisikinan itu telah sampai pada klimaksnya, berkatalah ia kepada suaminya mencoba memberikan alternative sebagai jalan keluar. Ia menyarankan agar suaminya memberitahukan kepada Rasulullah tentang keadaan kritis yang tengah mencekam mereka, kemudian minta tolong kepada beliau. Maka pergilah ia ke rumah Rasulullah memenuhi sarang istrinya. Sebelum menuturkan hajatnya, hadits nabi terngiang lagi di telinganya: “Barangsiapa memohon pertolongan kepadaku akan kuberi dia pertolongan. Dan barangsiapa mencukupkan diri maka Allah akan mencukupi dirinya.” Belum lagi mengucapkan sesuatu, ia pun kembali tanpa membawa hasil apa – apa. Namun, kemiskinan yang amat sangat itu membuatnya terpaksa dating kembali menemui Rasulullah pada hari berikutnya untuk maksud yang sama. Sesampainya disana, ia teringat lagi hadits Nabi tersebut. Sama seperti sebelumnya ia kembali pulang ke rumah tanpa mengutarakan maksudnya kepada Rasulullah.

Sesampainya di rumah dapatkan dirinya masih dalam cengkreman kemelaratan – tak ada jalan pemecahan. Oleh karena itu, untuk ketiga kalinya ia mencoba dating ke hadapan Rasulullah untuk meminta pertolongan. Kali ini berbeda dengan kejadian sebelumnya – sebelum hadits nabi menggema di telinga tiba – tiba ketentraman batin menyelinap di hatinya. Terbesit kesadaran dalam jiwanya, bahwa kunci pembuka kemusykilan hidupnya itu sebenarnya sudah ada di tangannya.

Akhirnya keluarlah ia dengan langkah yang mantap seraya bertekad: “Pantang aku minta pertolongan kepada manusia. Satu – satunya tempatku bersandar hanyalah kepada Allah. Aku mesti berserah diri kepada – Nya. Cukuplah dia bagiku sebagai tempat mengadu. Allah telah memberikan kekuatan, dengan kekuatan inlah aku mesti berjuang mengatasi problema hidupku – tiada pemberi kekuatan kecuali Allah semata”.

Di kala ia sedang hanyut dalam pemikirannya, tersembullah sebuah pertanyaan dalam benaknya: “Pekerjaan apakah yang dapat kulakukan?”

Timbullah hasrat dalam dirinya untuk memulai bekerja mencari kayu bakar. Tanpa pikir panjang ia pun berangkat ke suatu padang, setelah terlebih dahulu meminjam kapak kepada seseorang. Dikumpulkannya sejumlah kayu bakar, selanjutnya di bawa ke kota untuk dijual. Kini ia telah dapat mengecap kelezatan hasil jerih payahnya. Ia tetap melakukan pekerjaan tersebut, sampai pada suatu saat ia mampu membeli seekor unta dan dua orang budak dengan uang hasil penjualan kayu bakar itu. Hari demi hari, kekayaan semakin bertambah, dan akhirnya ia menjadi seorang hartawan.

Pada suatu hari betemulah ia dengan Rasulullah S.A.W., maka berceritalah ia bagaimana dahulu datang menghadap beliau untuk meminta pertolongan. Beliau tersenyum mendengar ceritanya, seraya berucap:” Memang aku pernah berkata,’Barangsiapa mohon pertolongan kepadaku, akan kuberi dia. Dan barangsiapa mencukupkan diri, maka Allah akan mencukupkannya’.”

Tidak ada komentar

Posting Komentar