Selasa, 14 Maret 2017

Ketika Imam Ar-Ridla Menolak Tawaran Jabatan

Tatkala Ma’mun berkat kelicikan taktiknya terhadap saudaranya, Amin berhasil menduduki puncak kekuasaan kursi khalifah, ia menulis... thumbnail 1 summary



Tatkala Ma’mun berkat kelicikan taktiknya terhadap saudaranya, Amin berhasil menduduki puncak kekuasaan kursi khalifah, ia menulis sepucuk surat kepada imam Ar-Ridla agar berkenan dating ke Marwa. Saat itu Marwa adalah bagian dari wilayah Khurasan. Dengan berbagai alas an Imam berusaha menolak panggilan Ma’mun, namun tak henti-hentinya menyampaikan surat panggilan dilayangkan kepadanya. Akhirnya terpaksalah Imam berangkat ke Marwa, karena ia tahu bahwa Ma’mun akan tetap memanggilnya sebelum ia datang menghadapnya.
Setibanya di sana Ma’mun menawarkan kursi khalifah, namun ia menolak karena tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik tawaran itu, di lain pihak Ma’mun tetap mendesak, sementara Imam tetap menolak. Keadaan seperti ini berlangsung terus sampai dua bulan.
Setelah Ma’mun merasa Imam tidak bisa lagi dibujuk rayu untuk mau memegang jabatan sebagai khalifah, maka sekali lagi ia menawarkan jabatan sebagai khalifah, maka sekali lagi ia menawarkan Imam agar mau menjadi putra mahkota. Permintaan ini diterima asalkan ia diperkenankan mengajukan beberapa syarat. Ma’mun pun menyetujui, lalu Imam menulis syarat-syarat yang dikehendakinya, yang isinya antara lain adalah:
“Saya bersedia menduduki jabatan, tetapi saya tidak akan memerintah, tidak akan melarang, tidak akan memutuskan perkara dan tidak akan mengubah sesuatu yang telah berjalan. Hendaknya kamu membebaskan saya dari semua itu.”
Ma’mun menyetujui persyaratan di atas, kemudian diserukan kepada rakyat agar membai’at Imam sebagai putra mahkota. Surat-surat pemberitahuan segera dikirimkan ke semua negeri. Seluruh mata uang dicetak dengan menggunakan namanya. Ia sendiri berpidato dari mimbar ke mimbar, mengumumkan putra mahkota baru itu.
 Tak lama setelah pengangkatan itu berlangsung, datanglah hari Idul Fitri Ma’mun mengintruksikan Imam agar ia melaksanakan shalat ‘Id bersama rakyat, supaya hati mereka tenang.
Imam menjawab:”Bukankah kita telah menyetujui suatu kesepakatan dalam penobatan putra mahkota dulu?”
“Sesungguhnya yang saya kehendaki dari semua itu tiada lain adalah, agar masalah putra mahkota ini mantap di mata tentara maupun di mata rakyat semua.”
Karena Ma’mun mendesak terus maka Imam berkata: “Jika kamu membebaskan saya dari hal ini, maka ini adalah yang sangat kuharapkan. Tetapi jika kamu memaksaku terus, maka saya akan keluar sebagaimana Rasulullah dan Amirul mu’minin Ali bin Abi thalib keluar, yaitu dengan pakaian yang sangat sederhana.”
“Keluarlah sebagaimana yang kamu kehendaki.”
“Idul Fitri pun tiba, dan para pembesar baik sipil maupun militer telah siap menanti kedatangan rombongan putera mahkota sambil duduk berbanjar di tepi-tepi jalan, sementara para wanita dan anak-anak sama naik ke atas loteng rumah, agar dapat menyaksikan iring-iringan putra mahkota dengan segala kebesarannya.
Di kala sang surya mulai memancarkan sinar emasnya, keluarlah Imam Ar-Ridla dengan berpakaian yang amat sederhana, sebagaimana yang dijanjikannya kepada khalifah Ma’mun. sebelum keluar dari kediamannya, ia telah memerintahkan semua pengawalnya agar berpakaian sebagaimana yang ia kenakannya. Ia memakai serban putih dengan ujung yang satu dijulurkan ke dadanya, sedangkan yang lain terurai diantara kedua pundaknya. Ia berjalan sambil membawa tongkat dan tanpa alas kaki. Kain jubah diangkat sampai ke bawah lututnya. Ketika ia menggenakan takbir dengan sekeras-kerasnya, para pengawalnya menyambutnya dengan serempak. Suara takbir pun membahana, dan suasana pun menjadi sangat mengharukan. Terbesit pada setiap benak manusia seolah-olah bumi dan langit ikut menyambut takbirnya.
Dalam suasana gegap-gempitanya takbir, tampilnya imam dengan segala kesahajaannya dan tak diduga-duga hal itu memberi kesan yang mendalam di hati panglima dan pembesar. Serta merta merekapun melemparkan senjata dan meninggalkan segala perhiasan yang melekat pada badannya, yang sengaja dipersiapkan untuk berhari raya.
Imam berdiri di depan pintu sambil meneriakkan takbir dan memanjatkan pujian ke hadirat Allah:
“Allah Akbar, Allahu Akbar yang telah memberi petunjuk kepada kita. Allahu Akbar atas segala karunia yang dilimpahkan kepada kita. Berupa binatang-binatang ternak. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan ujian kepada kita.
Semua hadirin mengikuti berulang-ulang apa yang diucapkan Imam, dengan suara dan irama syahdu. Mereka tak kuasa menahan tangis yang mengharukan suasana. Jiwa mereka bergetar, perasaan bergejolak, dan dalam sekejap saja kota Marwa dilanda banjir air mata.
Tiap sepuluh langkah, Imam berhenti dan berjalan, menggemakan takbir empat kali, diikuti hadirin. Mereka berjalan berbondong-bondong di belakang Imam menuju tanah lapang, tempat shalat ‘Id segera dilaksanakan. Perasaan mereka diliputi keharuan sampai sampai mereka lupa kepada kehidupan dunia, dan meninggalkan segala perhiasan yang merupakan lambing kebesaran di mata manusia.
Fadlal bin Sahal segera melaporkan berita ini kepada Ma’mun. Ia berkata: “Imam Ar-Ridlal telah tiba di tempat shalat ‘Id, sementara menusia menjadi kacau karenanya. Sebaiknya khalifah memerintahkannya agar segera kembali ke istana.”
Khalifah Ma’mun memenuhi permintaan Fadlal, lalu diutusnya seorang utusan untuk menyuruh Imam Ar-Ridlal kembali ke istana. Tatkala Imam bertemu dengan Ma’mun, ia pun berkata: “Bukankah saya telah meminta kepadamu sebelumnya, agar kamu membebaskan saya dari hal seperti ini?”

Tidak ada komentar

Posting Komentar