Tatkala Ma’mun berkat kelicikan taktiknya
terhadap saudaranya, Amin berhasil menduduki puncak kekuasaan kursi khalifah,
ia menulis sepucuk surat kepada imam Ar-Ridla agar berkenan dating ke Marwa.
Saat itu Marwa adalah bagian dari wilayah Khurasan. Dengan berbagai alas an
Imam berusaha menolak panggilan Ma’mun, namun tak henti-hentinya menyampaikan
surat panggilan dilayangkan kepadanya. Akhirnya terpaksalah Imam berangkat ke
Marwa, karena ia tahu bahwa Ma’mun akan tetap memanggilnya sebelum ia datang
menghadapnya.
Setibanya di sana Ma’mun menawarkan kursi
khalifah, namun ia menolak karena tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik
tawaran itu, di lain pihak Ma’mun tetap mendesak, sementara Imam tetap menolak.
Keadaan seperti ini berlangsung terus sampai dua bulan.
Setelah Ma’mun merasa Imam tidak bisa lagi
dibujuk rayu untuk mau memegang jabatan sebagai khalifah, maka sekali lagi ia
menawarkan jabatan sebagai khalifah, maka sekali lagi ia menawarkan Imam agar
mau menjadi putra mahkota. Permintaan ini diterima asalkan ia diperkenankan
mengajukan beberapa syarat. Ma’mun pun menyetujui, lalu Imam menulis
syarat-syarat yang dikehendakinya, yang isinya antara lain adalah:
“Saya bersedia menduduki jabatan, tetapi
saya tidak akan memerintah, tidak akan melarang, tidak akan memutuskan perkara
dan tidak akan mengubah sesuatu yang telah berjalan. Hendaknya kamu membebaskan
saya dari semua itu.”
Ma’mun menyetujui persyaratan di atas,
kemudian diserukan kepada rakyat agar membai’at Imam sebagai putra mahkota.
Surat-surat pemberitahuan segera dikirimkan ke semua negeri. Seluruh mata uang
dicetak dengan menggunakan namanya. Ia sendiri berpidato dari mimbar ke mimbar,
mengumumkan putra mahkota baru itu.
Tak
lama setelah pengangkatan itu berlangsung, datanglah hari Idul Fitri Ma’mun
mengintruksikan Imam agar ia melaksanakan shalat ‘Id bersama rakyat, supaya
hati mereka tenang.
Imam menjawab:”Bukankah kita telah
menyetujui suatu kesepakatan dalam penobatan putra mahkota dulu?”
“Sesungguhnya yang saya kehendaki dari
semua itu tiada lain adalah, agar masalah putra mahkota ini mantap di mata
tentara maupun di mata rakyat semua.”
Karena Ma’mun mendesak terus maka Imam
berkata: “Jika kamu membebaskan saya dari hal ini, maka ini adalah yang sangat
kuharapkan. Tetapi jika kamu memaksaku terus, maka saya akan keluar sebagaimana
Rasulullah dan Amirul mu’minin Ali bin Abi thalib keluar, yaitu dengan pakaian
yang sangat sederhana.”
“Keluarlah sebagaimana yang kamu
kehendaki.”
“Idul Fitri pun tiba, dan para pembesar
baik sipil maupun militer telah siap menanti kedatangan rombongan putera
mahkota sambil duduk berbanjar di tepi-tepi jalan, sementara para wanita dan
anak-anak sama naik ke atas loteng rumah, agar dapat menyaksikan iring-iringan
putra mahkota dengan segala kebesarannya.
Di kala sang surya mulai memancarkan sinar
emasnya, keluarlah Imam Ar-Ridla dengan berpakaian yang amat sederhana,
sebagaimana yang dijanjikannya kepada khalifah Ma’mun. sebelum keluar dari
kediamannya, ia telah memerintahkan semua pengawalnya agar berpakaian
sebagaimana yang ia kenakannya. Ia memakai serban putih dengan ujung yang satu
dijulurkan ke dadanya, sedangkan yang lain terurai diantara kedua pundaknya. Ia
berjalan sambil membawa tongkat dan tanpa alas kaki. Kain jubah diangkat sampai
ke bawah lututnya. Ketika ia menggenakan takbir dengan sekeras-kerasnya, para
pengawalnya menyambutnya dengan serempak. Suara takbir pun membahana, dan
suasana pun menjadi sangat mengharukan. Terbesit pada setiap benak manusia
seolah-olah bumi dan langit ikut menyambut takbirnya.
Dalam suasana gegap-gempitanya takbir,
tampilnya imam dengan segala kesahajaannya dan tak diduga-duga hal itu memberi
kesan yang mendalam di hati panglima dan pembesar. Serta merta merekapun
melemparkan senjata dan meninggalkan segala perhiasan yang melekat pada
badannya, yang sengaja dipersiapkan untuk berhari raya.
Imam berdiri di depan pintu sambil
meneriakkan takbir dan memanjatkan pujian ke hadirat Allah:
“Allah Akbar, Allahu Akbar yang telah
memberi petunjuk kepada kita. Allahu Akbar atas segala karunia yang dilimpahkan
kepada kita. Berupa binatang-binatang ternak. Segala puji bagi-Nya yang telah
memberikan ujian kepada kita.
Semua hadirin mengikuti berulang-ulang apa
yang diucapkan Imam, dengan suara dan irama syahdu. Mereka tak kuasa menahan
tangis yang mengharukan suasana. Jiwa mereka bergetar, perasaan bergejolak, dan
dalam sekejap saja kota Marwa dilanda banjir air mata.
Tiap sepuluh langkah, Imam berhenti dan
berjalan, menggemakan takbir empat kali, diikuti hadirin. Mereka berjalan
berbondong-bondong di belakang Imam menuju tanah lapang, tempat shalat ‘Id
segera dilaksanakan. Perasaan mereka diliputi keharuan sampai sampai mereka
lupa kepada kehidupan dunia, dan meninggalkan segala perhiasan yang merupakan
lambing kebesaran di mata manusia.
Fadlal bin Sahal segera melaporkan berita
ini kepada Ma’mun. Ia berkata: “Imam Ar-Ridlal telah tiba di tempat shalat ‘Id,
sementara menusia menjadi kacau karenanya. Sebaiknya khalifah memerintahkannya
agar segera kembali ke istana.”
Khalifah Ma’mun memenuhi permintaan Fadlal,
lalu diutusnya seorang utusan untuk menyuruh Imam Ar-Ridlal kembali ke istana.
Tatkala Imam bertemu dengan Ma’mun, ia pun berkata: “Bukankah saya telah
meminta kepadamu sebelumnya, agar kamu membebaskan saya dari hal seperti ini?”

Tidak ada komentar
Posting Komentar