Malik Asytar adalah seorang yang bertubuh gemuk dan
berperawakan tinggi. Berkali kali dia di beri kepercayaan untuk memimpin
pasukan peperangan demi peperangan telah dilalui cukup untuk membuktikan
kepahlawanannya.
Pada suatu hari ia berjalan melewati pasar kuffah dengan
berpakaian baju gamis dan serban. Seorang penduduk kufah memperhatikan
langkahnya. Melihat sosok tubuh dengan berpakaian yang begitu asing baginya,
tiba-tiba terlintas pikiran jahil yang langsung dilaksanakannya pada diri orang
itu. Ia melemparkan sesuatu kepada Malik dengan tujuan untuk memperolok –
olokkan. Namun Malik tetap mengayunkan langkahnya tanpa menggubris perlakuan
yang tak sedap itu sampai akhirnya lenyap dari pandangan matanya.
Rupanya ada seseorang yang memperhatikan kelakuan orang
Kufah tadi, kemudian ia pun bertanya:”Apakah kau tidak kenal orang kau lempar
tadi?”
“Tidak, dia adalah seorang pejalan kaki yang lewat, seperti
halnya orang – orang lain.”
“Ketahuilah, dia adalah Malik Asytar an – Nasha’I, sahabt
Amirul mu’minin panglima perangnya”.
“Diakah Malik yang apabila singa melihatnya jadi gemetar
ketakutan, dan apabila musuhnya mendengar namanya disebut orang, maka berdiri
bulu kuduknya?”
“Tepat apa yang kau katakan”.
Menyadari akan
kelakuannya yang jahil itu, segera orang Kufah itu lari mengejar Malik untuk
meminta maaf. Akan tetapi, ia mendapatkan Malik telah masuk ke masjid, dan
ketika ia tiba, Malik telah mulai melakukan shalat, maka ia pun menunggunya
sampai selesai. Begitu Malik mengucapkan salam, langsung ia merangkul kedua
kakinya seraya mencium. Malik terheran heran bertanya: “Apa-apaan ini?”
“Maaf beribu maaf wahai tuan, atas kekurang ajaranku. Akulah
yang tadi mempermainkan tuan”.
Dengan tenang Malik menjawab:”Oh, tidak apa apa. Demi Allah,
saya masuk ke masjid ini justru untuk memintakan ampun bagimu”.
Bisa kita lihat betapa sabarnya seorang panglima besar yang
mana mungkin kita merasa dia akan marah atau menghardik orang Kufah tadi, tapi
justru sebaliknya seorang Malik Asytar justru bertingkah laku yang baik terhadap
sesama muslim, maka dari itu perlu kita mengintropeksi diri sudah kita berbuat
baik terhadap sesame muslim dan memaafkan kesalahannya.
Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar
Posting Komentar