Jumat, 03 Maret 2017

Kesabaran Seorang Panglima Perang

Malik Asytar adalah seorang yang bertubuh gemuk dan berperawakan tinggi. Berkali kali dia di beri kepercayaan untuk memimpin pasuk... thumbnail 1 summary



Malik Asytar adalah seorang yang bertubuh gemuk dan berperawakan tinggi. Berkali kali dia di beri kepercayaan untuk memimpin pasukan peperangan demi peperangan telah dilalui cukup untuk membuktikan kepahlawanannya.
Pada suatu hari ia berjalan melewati pasar kuffah dengan berpakaian baju gamis dan serban. Seorang penduduk kufah memperhatikan langkahnya. Melihat sosok tubuh dengan berpakaian yang begitu asing baginya, tiba-tiba terlintas pikiran jahil yang langsung dilaksanakannya pada diri orang itu. Ia melemparkan sesuatu kepada Malik dengan tujuan untuk memperolok – olokkan. Namun Malik tetap mengayunkan langkahnya tanpa menggubris perlakuan yang tak sedap itu sampai akhirnya lenyap dari pandangan matanya.
Rupanya ada seseorang yang memperhatikan kelakuan orang Kufah tadi, kemudian ia pun bertanya:”Apakah kau tidak kenal orang kau lempar tadi?”
“Tidak, dia adalah seorang pejalan kaki yang lewat, seperti halnya orang – orang lain.”
“Ketahuilah, dia adalah Malik Asytar an – Nasha’I, sahabt Amirul mu’minin panglima perangnya”.
“Diakah Malik yang apabila singa melihatnya jadi gemetar ketakutan, dan apabila musuhnya mendengar namanya disebut orang, maka berdiri bulu kuduknya?”
“Tepat apa yang kau katakan”.
 Menyadari akan kelakuannya yang jahil itu, segera orang Kufah itu lari mengejar Malik untuk meminta maaf. Akan tetapi, ia mendapatkan Malik telah masuk ke masjid, dan ketika ia tiba, Malik telah mulai melakukan shalat, maka ia pun menunggunya sampai selesai. Begitu Malik mengucapkan salam, langsung ia merangkul kedua kakinya seraya mencium. Malik terheran heran bertanya: “Apa-apaan ini?”
“Maaf beribu maaf wahai tuan, atas kekurang ajaranku. Akulah yang tadi mempermainkan tuan”.
Dengan tenang Malik menjawab:”Oh, tidak apa apa. Demi Allah, saya masuk ke masjid ini justru untuk memintakan ampun bagimu”.
Bisa kita lihat betapa sabarnya seorang panglima besar yang mana mungkin kita merasa dia akan marah atau menghardik orang Kufah tadi, tapi justru sebaliknya seorang Malik Asytar justru bertingkah laku yang baik terhadap sesama muslim, maka dari itu perlu kita mengintropeksi diri sudah kita berbuat baik terhadap sesame muslim dan memaafkan kesalahannya.
Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar

Posting Komentar